RESENSI NOVEL WO AI NI ALLAH

BG163

 

Tajuk Novel  : Wo Ai Ni Allah

Karya              : Vanny Chrisma W.

Penerbit         : PTS Litera

Terbitan         : 2009

Halaman        : 292

Bagaimana rasanya hidup dalam kehampaan jiwa, rohani dan social? Pada saat kita sedang mencari Tuhan, pada saat itu juga kita merasa Tuhan telah meninggalkan kita sendiri. Perdebatan tentang Tuhan tidak akan selesai sampai akhir zaman karena sama saja kita sedang memperdebatkan sesuatu yang terlalu sederhana untuk bisa diwakilkan lewat ungkapan dalam bentuk apapun. Wajar jika bagi saya,ketika seorang manusia membahas tentang Tuhan, manusia lain dengan mudah membantahnya.

 

Dalam mengungkapkan misteri Tuhan misalnya, orang sering menyebut “Mencari Tuhan” untuk menunjukkan keseriusan dalam mengungkapkan Sang Maha Gaib dan orang-orang yang mencari kemudian disebut dengan “Pencari Tuhan”. Menurut saya itu merupakan hal yang wajar-wajar saja dalam mengungkapkan misteri Tuhan memakai istilah “mencari” karena memang bagi sebagian orang yang belum faham,Tuhan masih tersembunyi. Namun sebagian lain menganggap bahwa istilah “Mencari Tuhan” adalah ungkapan yang keliru karena Tuhan tidak pernah hilang, Dia meliputi seluruh alam, bagaimana mungkin Dia hilang sedangkan Dia lebih dekat dari urat nadi.

 

Tuhan dalam pandangan sufi tidak menyembunyikan diri-Nya,akan tetapi manusia yang menyembunyikan diri dari Tuhan. Logikanya kalau Tuhan bersembunyi maka mustahil manusia menemukan karena kita tidak mungkin melawan kehendak-Nya akan tetapi kalau Tuhan tersembunyi, terhalang oleh dri kita sendiri,maka kemungkinan menemukan Tuhan tergantung ikhtiar masing-masing manusia.

 

Mencari Tuhan berarti dengan akal fikiran dan dengan daya kemampuan yang ada kita dengan sekuat tenaga menemukan Dzat yang tersembunyi dan itu merupakan hal yang mustahil. Saya membuat pemisalan begini, seumpama kita mempunyai saudara sepupu jauh, bisa hubungan dari Ayah atau Ibu kita dalam beberapa generasi diatas dan konon kabarnya berada di Amerika. Kita hanya mengetahui namanya, misal Aliando. Bisa Anda

 

 

 

 

 

 

 

bayangkan betapa mustahilnya mencari orang bernama Aliando diantara 1 milyar manusia di negeri Amerika. Kita mau mencari diwilayah mana, belum lagi kita tidak tahu sama sekali wajahnya dan sudah pasti nama yang sama disana kemungkinan bisa ribuan nama.

Kalau ini mustahil, bisa Anda bayangkan mencari Allah yang maha Ghaib dialam yang tak terbatas ini.

 

Tuhan terlalu sederhana untuk diwakilkan lewat kata-kata atau sebuah karya baik puisi maupun buku karena Dia memang maha sempurna dan memiliki kesempurnaan. Seberapa banyak kata yang ditulis, seberapa lama pembicaraan dilakukan, tetap tidak bisa mewakilkan dari Sang Maha Kuasa. Bagaimana mungkin kita bisa menyederhanakan Tuhan, sedang Tuhan adalah Maha Rumit, Maha Lengkap dan Maha Segala-galanya.

 

Ungkapan dalam bentuk apapun juga tidak akan bisa mewakili Sang Maha Sempurna, termasuk dalam hal memanggil-Nya. Untuk menghormati manusia, kita bisa memanggil dengan sebutan “Beliau” sebagai ganti orang ketiga atau kita menyebut “Dia” maka itu sudah dalam bentuk penghormatan, begitulah kesepakatan kita bersama.

 

Begitu juga dengan nama-Nya, Islam menyebut nama Tuhan Pemilik Seluruh Alam dengan Allah, disamping ada 99 nama bagi-Nya dan nama-nama itu untuk mewakili Sang Maha Sempurna. Agama lain memiliki sebutan yang berbeda dan intinya nama dari Tuhan adalah nama yang menempatkan dia pada posisi mulia, Sempurna dan Agung.

 

Didalam hidup, sebagian besar manusia berusaha mencari dan menemukan Tuhan. Mungkin karena manusia adalah makhluk yang serba ingin tahu, sehingga manusia berusaha mencari jawaban untuk setiap permasalahan dalam hidupny, dan jawaban yang terbaik hanyalah dari sang Pencipta. Banyak cara orang dalam berusaha mencari dan menemukan adanya Tuhan. Ada yang berjalan mendaki gunung untuk bisa menemukan Tuhan. Manusia tertentu mencari Tuhan dengan bersemedi atau bertapa di tempat tertentu. Sebagian manusia menemukan Tuhan dalam nyanyian dan tarian, sebagian yang lain menemukan Tuhan melalui memberikan pertolongan kepada orang lain.

 

Berbagai macam buku dan ajaran diberikan atau diakui oleh orang tertentu, bahwa cara merekalah yang terbaik, terbenar dan yang tercepat dalam menemukan Tuhan, mereka merasa bahkan terkadang memaksa orang lain untuk mempercayai dan mengikuti cara atau kepercayaan meraka. Mencari Tuhan ibarat manusia yang ingin menuju ke sebuah tempat dari tempat dia berada saat ini. Setiap manusia berhak menentukan dengan cara apa yang terbaik menurut dia, dalam mencapai tujuannya. Misalnya ada 3 orang yang ingin pergi ke Medan dari Jakarta, orang pertama karena alas an kecepatan dan kepraktisan, dia memilih memakai pesawat terbang. Orang kedua, karena alas an ingin menikmati perjalanan dan pemandangan sepanjang perjalanan memilih memakai bus antar kota. Orang ketiga, karena tidak ingin terguncang-guncang didalam perjalanan memilih menggunakan kapal.

 

Mereka bertiga yang menuju kota Medan dengan cara dan pilihan masing-masing akan mencapai kota Medan dalam waktu yang berbeda, sesuai dengan kendaraan yang

 

 

 

 

 

 

digunakannya. Tetapi, terkadang hal itulah yang menjadi sumber perdebatan atau perselisihan diantara manusia. Bahkan yang membuat saya prihatin dan terheran-heran adalah didalam satu kepercayaan pun  sering terjadi perbedaan, yang menjurus kepada kekerasan. Padahal cara atau kepercayaan yang dipilih itu sudah ada aturan-aturan yang berlaku dan seharusnya dipatuhi dan dilaksanakan bersama.

 

Proses pencarian Tuhan oleh manusia adalah hal yang fitrah, sesungguhnya setiap manusia pasti membutuhkan keyakinan siapa Tuhan yang sebenarnya. Seorang muslim sekalipun yang tidak mempunyai keyakinan kebenaran Tuhannya, maka kebutuhan yang paling fitrahnya belum terpenuhi, dan selama itu pula dia tidak akan lurus hidupnya. Buat orang yang memahami fitrahnya, dia akan terus mencari kebenaran Tuhannya. Dian tidak akan puas apabila belum menemukan Tuhannya yang sebenarnya. Karena Tuhan adalah pencipta dan penguasa alam semesta, manusia butuh petunjuk dari Tuhan yang sebenarnya.

 

Hal ini pernah terjadi dalam proses pencarian Tuhan yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim, dalam Al-qur`an surah Al-An`am 75-79 “Dan demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda kekuasaan Kami yang terdapat dilangit dan dibumi, agar ia termasuk orang-orang yang yakin, ketika malam telah gelap, ia menatap sebuah bintang seraya berkata inilah Tuhanku. Namun ketika bintang tenggelam iapun berkata, aku tak suka kepada sesuatu yang lenyap (untuk dipertaruhkan). Kemudian ketika ia memperhatikan bulan terbit, maka ia berkata, sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk orang-orang yang sesat.

 

Kemudian ketika ia menatap matahari terbit iapun berkata, inilah Tuhanku. Bukankah ia lebih besar? Tatkala matahari terbenam akhirnya ia berkata: Hai kaumku, sesungguhnya aku telah melepaskan diri dari apa yang telah kamu persekutukan (Menyembah patung). Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan pencipta langit dan bumi sebagai agama yang benar dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan” (Q.S.Al-An`am 75-79).

 

Demikianlah proses turunnya hidayah Tuhan kepada seorang hambanya Nabi Ibrahim AS. yang merupakan titik temu antara pencarian manusia terhadap Tuhan melalui akalnya (dengan melihat ayat kauniyah) dengan petunjuk Tuhan melalui wahyunya (ayat qauliyah). Itulah sebabnya setelah Nabi Ibrahim menemukan Tuhannya melalui pencarian akalnya, iapunmenyadari bahwa “Jika sekiranya Tuhan tidak menunjuki diriku dalam aku mencari Dia, niscaya aku tergolong orang-orang yang sesat” (Q.S.Al-An`am 77).

 

“(Dialah Allah) yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang maha pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam keadaan payah.” (Q.S.Al-Mulk 3-4).

 

 

 

 

 

 

 

Salah dalam menemukan Tuhan yang sebenarnya, atau dia tidak peduli adanya Tuhan dan menuhankan hawa nafsunya akan menyebabkan dia menderita di dunia dan akhirat. Karena menemukan Tuhan yang sebenarnya adalah kebutuhan fitrah manusia. Dalam pencarian Tuhan yang sebenarnya kita membutuhkan hati, penglihatan, dan pendengaran. Barangsiapa yang tidak mau menggunakan anugerah Tuhan tersebut maka dia akan tersesat.

 

Dan dia akan melalaikan ketiga anugrah tersebut untuk mencari Tuhan yang sebenarnya. Dan barangsiapa yang menggunakan anugerah Tuhan tersebut maka dia akan selamat. “Telah Kami penuhi isi neraka jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, yaitu mereka yang mempunyai hati tapi tak pernah digunakan untuk memikirkan ayat-ayat Allah dan mereka mempunyai mata tak digunakan untuk memperhatikan tanda-tanda kekuasaan Allah dan mereka mempunyai telinga tak digunakan untuk mendengarkan firman-firman Allah. Mereka laksana binatang bahkan lebih rendah dari itu. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (Q.S. Al-A`raf 179).

 

 

 

NB :Figur gadis Cina dalam novel ini adalah cermin kerinduan spiritual yang tak terperikan dikalangan atheis, yang tak tahu mau kemanakah jalan hidupnya. Sementara bagi muslim dan muslimah sendiri, figur itu adalah batu ujian yang mempertanyakan kesejatian iman dan ihsannya. Vanny telah mengetuk pintu spiritual setiap hati manusia. Wo Ai Ni Allah, itulah esensi hidup kita. Sebuah novel yang penuh tantangan dan keteladanan dalam meyakini keberadaan dan kebenaran Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s